MEWUJUDKAN UMK KOMPETITIF MENGHADAPI CAFTA


ACFTAFree Trade Agreement (FTA) ASEAN-China menjadi pembahasan utama pada penghujung tahun 2009. Pasalnya, seperti yang diberitakan secara resmi dalam berbagai media bahwa kesepakatan ini dimulai tepat pada tanggal 1 Januari 2010 di Indonesia. FTA ASEAN-China menjadi pembahasan sangat penting di berbagai media, praktisi dan akademisi di bidang ekonomi dikarenakan kesepakatan perdagangan bebas ini memberikan dampak yang cukup besar bagi perubahan perekonomian Indonesia. Sebagaimana diketahui bersama bahwa kesepakatan perdagangan bebas ini adalah dihilangkannya bea masuk barang Negara asing ke Indonesia.

Beberapa peluang yang dapat dimanfaatkan dari perdagangan bebas ini cukup banyak, baik oleh masyarakat konsumen maupun masyarakat produsen. Pada sisi konsumen, faktor murah dan pilihan produk yang variatif menjadi keuntungan yang dapat diraih. Sedangkan dari sisi produsen, ekspor produk dalam negeri akan semakin mudah karena unsur cukai dalam hal ini telah dihilangkan pada Negara yang bersepakat untuk mengadakan FTA. Namun demikian pada sisi persaingan usaha dalam negeri akan semakin kompetitif antar produsen lokal dan domestik. Permasalahannya adalah terletak pada ketimpangan teknologi dan produk antara usahawan dalam negeri yang jauh lebih sedikit produknya dibanding produk luar negeri yang bervariasi dan relative murah, khususnya produk-produk dari China. Ketidak siapan inilah yang menjadi permasalahan utama dalam setiap pembahasan para ekonom maupun usahawan Indonesia.

Untuk mengantisipasi ketidak siapan ini, pemerintah telah mengadakan negosiasi ulang tentang pos tarif barang dalam FTA kepada ASEAN. Dari sebanyak 2.528 pos tarif yang masuk dalam katagori NT 1 yang mulai berlaku per 1 Januari 2010, hanya sebanyak 303 pos tarif yang dikabulkan di 8 sektor industri untuk dimajukan dalam proses renegosiasi. Selain itu ada 11 pos tarif sektor industri kecil dan menengah (IKM) sehingga total yang akan diajukan 314 pos tarif. Diantaranya yaitu untuk besi dan banyak sebanyak 189 pos tarif, disusul oleh tekstil dan produk tekstil sebanyak 87 pos tarif, elektronika 7 pos tarif, alas kaki 5 pos tarif, furnitur 5 pos tarif,kimia organik 7 pos tarif, petrokimia 2 pos tarif dan mamin hanya 1 pos tarif. Renegosiasi ulang sangat dimungkinkan dalam kerangka FTA yang sejalan dengan artikel 23 ASEAN mengenai upaya modifikasi dan suspensi perjanjian. Waktu yang diperlukan atau yang diatur yaitu selama 180 hari periode negosiasi melalui AFTA Council. Selain itu, Departemen Perindustrian juga telah mengajukan modifikasi tarif untuk beberapa sektor industri sehingga yang seharusnya berlaku pada 2010 dapat diundur menjadi 2012 dan 2018. Dari Menkeu sendiri tetap menerapkan Bea Masuk atas produk luar negeri sampai pada akhir 2010.

Terlepas dari usulan negosiasi pemerintah kepada ASEAN dan jangka waktu yang diusulkan, perlu ada langkah cepat untuk menanggapi ketidak siapan persaingan bisnis tersebut khususnya Usaha yang bergerak di bidang Industri Mikro dan Kecil yang memang sangat rentan terhadap persaingan ini. Ada beberapa alasan yang menyebabkan UMK lebih rentan dari pada Usaha Menengah dan Besar. Diantaranya adalah minimnya likuiditas dan permodalan; SDM yang kurang terampil dan professional; dan Informasi bisnis yang asimetris.

Potensi Lembaga Keuangan Mikro Syariah

Apabila dianalisa dari dukungan utama permodalan pada UMK, hal ini  biasanya dilakukan oleh lembaga keuangan mikro setingkat BPR/S, Koperasi dan BMT. Namun demikian, jika dilihat dari segi efektifitas permodalan dan edukasi bisnis kepada UMK, maka didapati BMT lah yang mempunyai peran lebih baik dan lebih dekat dibanding dengan BPR/S maupun Koperasi. Hal ini disebabkan oleh sistem BMT yang sudah berkembang hampir menyamai bank dan juga fungsinya yang unik, yaitu keuangan dan sosial yang kental dalam term baitul maal wat tamwil.  Hal ini juga didukung dengan menjamurnya BMT kurang lebih telah menyebar di Indonesia sebanyak 4000 BMT. Jika diasumsikan 1 BMT sudah memiliki anggota 8.000 jiwa sebagaimana yang didapati pada BMT Bina Ihsanul Fikri di Yogyakarta, maka kita dapat memberdayakan sekitar 32.000.000 jiwa yang mayoritas adalah pelaku UMK.

Ada tiga fungsi dasar yang bisa digunakan untuk membuat BMT menjadi sebuah lembaga yang paling ideal untuk pemberdayaan UMK. Pertama, fungsi pembiayaan langsung, cepat dan mudah; Kedua, fungsi pendampingan bisnis dengan kelompok usaha mandiri; dan ketiga, penyaluran dan pemasaran produk.

Mengacu pada fungsi dan pola kerja dasar BMT tersebut di atas, maka dapat diperlukan beberapa langkah strategis untuk meramu potensi di atas kemudian disesuaikan dengan beberapa kelemahan UMK untuk ditutupi dan diperkuat dengan potensi ini.

Formulasi UMK Kompetitif melalui Optimasi Fungsi BMT

Formulasi untuk menciptakan UMK Kompetitif melalui BMT dapat dilakukan dengan langkah-langkah strategis berikut: Pertama, penguatan basis permodalan BMT; kedua, menjadikan BMT basis informasi bisnis UMK; dan ketiga, pembentukan Kelompok Usaha Terpadu (KUT) dalam sistem dan fungsi pendampingan serta pemasaran produk BMT terhadap UMK yang dibina.

Untuk menguatkan basis permodalan dibutuhkan kerjasama secara terpadu antara pihak pemerintah dengan pembiayaan serta perusahaan permodalan swasta lainnya. Sedangkan pada sisi edukasi bisnis diperlukan kerjasama secara intensif dengan departemen Informasi dengan sub divisi UMK atau langsung melalui Depkominfo.

Terkait dengan pembentukan kelompok usaha terpadu, maka dibutuhkan kerjasama antara BMT, UMK dan pihak Jaringan Pengusaha swasta yang sudah banyak didirikan oleh para usahawan seperti Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia agar penyaluran dan pemasaran produk UMK dapat bersaing secara terpusat. Sudah saatnya pemerintah secara objektif berusaha untuk mengembangkan segala potensi yang ada sebagai upaya memperkuat produk lokal yang mempunyai daya kompetisi dan daya saing di dunia internasional.

Oleh:

M. Agus Khoirul Wafa

Diterbitkan di SKH Kedaulatan Rakyat 13/01/2010

ilustrasi gambar dari http://www.hariansumutpos.com/images/tag/ekonomika.jpg

One Response to MEWUJUDKAN UMK KOMPETITIF MENGHADAPI CAFTA

  1. Pingback: PENGARUH CAFTA TERHADAP KOPERASI DAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH | Herusukron's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: