MODERNISASI TEKNOLOGI UMKM


Peran UKM dalam perekonomian sebuah negara, termasuk Indonesia, memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebagai contoh, di Belanda, UMKM merupakan 98,8% perusahaan yang ada dan menyerap 55% angkatan kerja. Sebanyak 35 juta dollar Amerika ekspor Italia merupakan kontribusi UKM yang menyerap 2,2 juta tenaga kerja. Di Vietnam, sebanyak 64% angkatan kerja diserap oleh UKM. Hal serupa juga terjadi di Indonesia. Menurut data Biro Pusat Statistik dan Kementerian Koperasi dan UKM 2009, jumlah UMKM di Indonesia mencapai 51.3  juta. Sektor UMKM di Indonesia  pada tahun 2007-2008 terbukti telah menyerap 90.89juta tenaga kerja, mempunyai andil terhadap 51.23% nilai investasi nasional dan 58.32% Produk Domestik Bruto (PDB).

Melihat kontribusi UMKM di atas, tentu peran UMKM dalam pengembangan sektor riil sebagai pendukung langsung ekonomi Indonesia sangat strategis. Namun demikian, ketatnya kompetisi, terutama menghadapi perusahaan besar dan pesaing modern lainnya telah menempatkan UMKM dalam posisi yang tidak menguntungkan. Di Indonesia, sebagian besar UMKM menjalankan usahanya dengan cara-cara tradisional, termasuk dalam produksi dan pemasaran. Namun demikian, masalah yang dihadapi oleh UMKM di negara-negara berkembang sebenarnya bukanlah karena ukurannya, tetapi lebih karena isolasi yang menghambat akses UMKM kepada pasar, informasi, modal, keahlian, dan dukungan institusional.

Beberapa faktor penyebab kegagalan UKM yaitu: ketidakmampuan manajemen, kurang pengalaman, lemahnya kendali keuangan, gagal mengembangkan perencanaan strategik, pertumbuhan tak terkendali, dan lokasi yang buruk. Selain itu kegagalan mengelola manajemen UKM juga disebabkan karena kurang mampu dalam pemanfaatan kemajuan teknologi dan informasi.

Teknologi informasi (TI) yang berkembang sangat pesat datang dengan peluang-peluang baru yang dapat mengatasi sebagian masalah UMKM tersebut. Meskipun peluang yang dibawa oleh TI sangat besar, namun banyak penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa adopsi TI oleh UMKM masih rendah dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan besar. Menurut hasil studi lembaga riset AMI Partners, hanya 20% UMKM di Indonesia yang memiliki komputer.

Kurangnya pemahaman peran strategis yang dapat dimainkan oleh TI terkait dengan pendekatan baru pemasaran, berinteraksi dengan konsumen, dan bahkan pengembangan produk dan layanan diduga sebagai sebab rendahnya adopsi TI oleh UMKM di Indonesia. Berdasar survei yang dilakukan oleh Fathul Wahid, Dekan Fakultas Tekonologi Industri UII terhadap UMKM di Yogyakarta pada tahun 2007, alasan UMKM yang belum menggunakan komputer adalah karena tidak merasa butuh (82,2%), dukungan finansial yang terbatas (41,1%), dan karena tidak memiliki keahlian untuk menggunakan (4,1%).

Mengacu pada hasil Survei di atas, dari UMKM yang telah mempunyai komputer, belum banyak yang menggunakannya untuk aktivitas strategis dan berorientasi eksternal. Hal ini didukung oleh data bahwa sebanyak 68,9% UKM menggunakan komputer hanya untuk mengetik surat atau laporan, 66,67% untuk melakukan perhitungan, 34,5% untuk mengakses Internet, 43,7% untuk mendesain produk, 28,7% untuk menjalankan sistem informasi, dan 20,7% untuk melakukan presentasi.

Modernisasi teknologi perlu dilakukan untuk menguatkan pondasi ekonomi masyarakat. Usaha modernisasi ini perlu dukungan berbagai pihak, tidak hanya kemauan dari para pelaku UMKM, namun yang lebih penting adalah stimulus dari pemerintah akan pentingnya penggunaan teknologi praktis guna mendukung pengolahan produk, efisiensi produksi dan perluasan pangsa pasar.

Oleh:

M. Agus Khoirul Wafa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: