EDUKASI PRINSIP LUBER DAN JURDIL MENUJU PILKADA YANG BERSIH


Sudah menjadi rahasia umum, bahwa “serangan fajar” akan selalu muncul ketika akan terjadi pemilihan umum, baik itu berskala nasional sampai ke desa. Dan bukan sebuah rahasia lagi, justru masyarakat menunggu-nunggu adanya “serangan fajar” yang jumlahnya cukup variatif dan bisa menghidupi kebutuhan keluarga dalam beberapa hari.

Tidak salah memang menerima pemberian dari siapapun dan dalam bentuk apapun. Namun dalam hal pemilihan umum beda lagi ceritanya. Pemberian ini digunakan untuk membeli suara masyarakat agar yang memberi bantuan tersebut terpilih dalam ketatnya bursa pemilihan umum.

Permasalahan menjadi salah satu penyebab atas pemilihan masyarakat kepada calon pemimpin mereka melalui siapa yang dapat memberikan lebih banyak ketika serangan fajar terjadi. Asumsi yang mereka bangun adalah dengan harapan pemberian itu sebagai bentuk usaha calon pemimpin tersebut dalam mengupayakan kesejahteraan rakyat. Semakin besar bantuan yang diberi, maka semakin besar pula upaya mereka (calon pemimpin) dalam memberikan kesejahteraan kepada masyarakat, atau asumsi sebaliknya, masih untung mereka memberikan bantuan pada rakyat ketika PEMILU, dari pada tidak diberi sama sekali pasca pemilu sama sekali.

Inilah yang menjadi permasalahan inti dalam kasus serangan fajar sebelum PEMILU. Bentuk penyadaran kepada masyarakat haruslah segera dilakukan mengingat sebentar lagi akan diadakan Pemilihan kepala daerah (PILKADA) di Indonesia. Ada beberapa hal yang perlu diingatkan kepada masyarakat sekaligus para calon yang akan mengajukan dirinya sebagai pemimpin di daerah masing-masing.

Prinsip Luber dan Jurdil

Pertama, adalah seorang pemimpin adalah penanggung jawab atas segala hal yang terjadi dalam masyarakat. Artinya, apabila kondisi dan tatanan masyarakat kacau, maka indikasinya adalah kacaunya seorang pemimpin dalam daerah tersebut. Begitu pula sebaliknya, apabila tatanan masyarakat itu maju dan dinamis yang dalam hal ini diindikasikan dengan adanya keseimbangan antara kondisi lingkungan baik alam maupun ekonomi dan budaya dengan tingkat kesejahteraan masyarakat, maka dapat dipastikan kinerja pemimpin pada masa tersebut juga baik. Inilah yang perlu disadari oleh seorang calon pemimpin.

Kedua, pada sisi masyarakat harus diubah cara berfikir mereka. Jika pada awalnya indikator pemimpin yang baik itu dilihat dari bantuan “serangan fajar” yang diberikan atau karena ketidak tahuannya dalam sosok calon pemimpin atau kepala daerah, maka harus diberi pengertian bahwa tidak mungkin seseorang mengeluarkan uang yang begitu besar sampai miliaran rupiah jika tidak mengharapkan pengembalian yang besar pula, apalagi apabila calon pemimpin tersebut berlatar belakang kurang mampu. Karena dampak dari serangan fajar ini akan fatal jika sesuai dengan rencana pemberinya, yaitu membeli suara rakyat dalam pemilu. Tentu potensi akan korupsi akan sangat besar pada daerah yang ia pimpin nantinya, karena tidak mungkin mengandalkan gaji seorang bupati dalam masa 5 tahun untuk mendapatkan uangnya kembali sejumlah miliaran rupiah.

Edukasi Prinsip Luber dan Jurdil

Dua poin inilah yang perlu dipahamkan kepada calon pemimpin dan masyarakat. Untuk merealisasikan hal ini, maka ada beberapa tahapan strategis yang dapat dilakukan setiap elemen terkait. Pertama adalah diperlukannya bentuk penyadaran awal kepada para calon pemimpin akan amanat yang akan dipegangnya selama beberapa periode ke depan selama dia menjabat. Hal ini dapat dilakukan dengan adanya instruksi untuk memperjelas visi dan misi serta arahan strategis mereka dalam membangun daerah yang mereka wakili, bukan berupa slogan tapi langkah konkret dari visi dan misi yang mereka usung.

Kedua adalah upaya untuk mengantisipasi ketidak tahuan masyarakat atas calon pemimpinnya. Hal ini dapat dilakukan dengan kerjasama antara tim sukses tiap calon pemimpin dan penyelenggara pemilu untuk menerbitkan semacam profil singkat atas setiap calon pemimpin daerah agar dapat dipelajari dengan baik oleh masyarakat. Profil tersebut dapat berbentuk ulasan media atau booklet khusus tentang mereka.

Ketiga, untuk menghindari efek serangan fajar pada proses pemilu, mindset tentang serangan fajar dan potensi korupsi ini harus disosialisasikan kepada masyarakat, sehingga penilaiannya mereka berdasarkan profesionalitas dan visi pembangunan daerah yang diusung oleh setiap calon kepala daerah. Ketiga hal ini dapat berjalan dengan baik apabila dilakukan secara bersama oleh pemerintah, calon kepala daerah, masyarakat dan pihak terkait. Semoga proses pilkada tahun ini dapat menjadi bersih dan jujur sesuai dengan slogan pemilu kita: Langsung, Bebas, Rahasia, Jujur dan Adil.

Oleh:

M. Agus Khoirul Wafa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: