AC-FTA DAN POTENSI PRODUK KREATIF LOKAL


ASEAN China Free Trade Area (AC-FTA) mulai awal tahun 2010 ini telah berlaku. Konsekuensi yang ditimbulkan dari kesepakatan ini pertama telah menimbulkan dampak psikologis pada dunia industri Indonesia. Bagaimana tidak, wacana yang berkembang adalah dunia usaha lokal Indonesia akan segera tergerus dengan produk-produk buatan China, mengingat produk tersebut dinilai jauh lebih murah dan kualitasnya bersaing. Tidak berhenti sampai disini, bentuk kepanikan ini semakin diperkuat dengan tidak siapnya dunia usaha kita dari segi teknologi dan informasi untuk menghadapi ombak globalisasi tersebut.

Dampak ini semakin Nampak ketika banyak wacana dari para pengusaha maupun pemerintah sendiri untuk menunda hasil kesepakatan tersebut. Sebagai contoh pemerintah telah mengadakan negosiasi ulang tentang pos tarif barang dalam FTA kepada ASEAN. Walaupun dari sebanyak 2.528 pos tarif yang masuk dalam katagori NT 1 yang mulai berlaku per 1 Januari 2010, hanya sebanyak 303 pos tarif yang dikabulkan di 8 sektor industri untuk dimajukan dalam proses renegosiasi. Namun demikian, suka atau tidak, cepat atau lambat dunia usaha kita akan segera menemui globalisasi ini. Kita harus melihat segala bentuk peluang diantar segala bentuk himpitan dan desakan produk asing yang ada.

Apabila kita cermati bersama, ada beberapa potensi masyarakat yang berskala kecil namun tetap ajeg dilakukan, yang diantaranya adalah inovasi mereka dalam produk-produk kreatif. Hal ini bisa dicontohkan dengan adanya pengolahan barang-barang recycle seperti produk kreatif yang terbuat dari plastik sampah, perca, hasil laut dan alam lainnya di daerah Sukunan, Gamping. Sepintas mungkin jika dilihat pada bahan dasarnya, kita akan berasumsi bahwa barang tersebut tidak memiliki nilai guna, namun di tangan para inovator tersebut barang-barang itu bisa disulap menjadi tas yang unik, pot bunga yang indah dan berbagai macam produk yang justru diminati oleh kalangan menengah ke atas.

Tidak hanya sampai disini potensi yang ada, karena ternyata masyarakat asing atau luar negeri justru menyukai hal ini karena keunikannya. Di sinilah potensi kedua dapat dimaksimakan dari produk kreatif yang satu ini, karena secara tidak langsung akan memperluas pangsa pasar dari produk-produk kreatif ini. Produk kreatif ini akan berkembang lebih pesat lagi apabila dilakukan maksimalisasi fungsi pariwisata untuk mendorong kreatifitas masyarakat dalam membuat produk untuk dijadikan oleh-oleh para wisatawan lokal maupun asing. Tentu ini hanya salah satu contoh dari bentuk inovasi masyarakat dalam produk kreatif. Masih banyak lagi potensi dari produk kreatif lainnya yang sering kita jumpai keberadaannya justru ketika sudah dipasarkan di luar negeri atau dalam dunia maya yang berkembang saat ini yang justru memiliki nilai jual tinggi di dunia internasional.

Potensi ini nampaknya perlu dimaksimalkan oleh pemerintah pusat maupun daerah melalui mekanisme kebijakan otonomi daerah yang ada. Bentuk optimalisasi ini bisa berupa penyadaran langsung kepada masyarakat melalui sosialisasi produk kreatif atau pelatihan-pelatihan dan pemberian bantuan untuk usaha produk kreatif ini. Sebagai faktor pendorong lainnya adalah dengan memaksimalkan fungsi pariwisata kita yang beraneka ragam. Hal ini secara tidak langsung akan mendorong para penguasa untuk selalu berkreasi dan berinovasi dalam membuat produk baru dan memperbesar bentuk usahanya karena pangsa pasar mereka akan bertambah seiring dengan bertambahnya para wisatawan yang ada sebagai salah satu bidikan konsumen mereka.

Untuk membenahi fungsi pariwisata kita ada beberapa langkah konservatif yang dapat dilakukan bersama dengan masyarakat. Pertama adalah dengan bentuk penyadaran atas pemeliharaan sarana dan prasarana yang ada di lingkungan pariwisata. Hal ini dapat berjalan dengan baik jika masyarakat diberi stimulan berupa hasil dari pariwisata itu, baik berupa pemberian lapangan pekerjaan untuk pemeliharaan tempat wisata, jaminan usaha dalam tempat pariwisata atau bisa pula dengan insentif yang berdampak langsung pada individu warga atau fasilitas kemasyarakatan yang dapat dimanfaatkan secara bersama. Selain dari segi internal Negara, langkah kedua yang tidak kalah pentingnya adalah promosi wisata daerah harus tetap digalakkan. Banyak sudah Negara-negara tetangga yang menggunakan strategi promosi ini berhasil membidik wisatawan manca Negara untuk datang ke Negara mereka setelah orientasi bisnis mereka selesai di Negara tersebut.

Untuk memperkuat promosi ini, harus ditekankan bahwa faktor bisnis dan keamanannya sangat berpengaruh dalam dunia pariwisata, sehingga haruslah ada usaha pemerintah untuk memperbaiki kedua hal tersebut untuk memunculkan geliat wisata di Indonesia ini. Sudah saatnya pemerintah pusat dan daerah secara bersama-sama memulai untuk melihat peluang yang ada dan menembus tantangan globalisasi ini. Tidak hanya berpangku tangan dan pasrah menghadapi gelombang pasar bebas yang dampaknya akan segera dirasakan masyarakat kita dalam tempo yang cepat.

Oleh:

M. Agus Khoirul Wafa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: